We Are Not A Mind Reader
Suatu sore, saat rute terakhir menuju tempat jemputan, ternyata rantai roda sepeda motor putus. Suami lalu menelepon istri mengabari bahwa akan terlambat menjemputnya. Karena ia perlu membawa sepeda motornya ke bengkel terlebih dahulu. Disebutlah sebuah nama bengkel yang dekat dengan kejadian. Suami yang sedang di jalan, tidak leluasa bercakap lebih lama.
Istri (yang batere HPnya drop saat itu), tanpa mengkonfirmasi kembali langsung bergerak dari tempat menuju bengkel yang dimaksud suami. Meski sudah diingatkan kawan untuk konfirmasi kembali. Dia bilang tidak perlu. “SUAMI SUDAH TAU”
Entah apa yang terjadi kemudian…
Tiba-tiba suami muncul ditempat jemputan dengan tergesa-gesa menanyai seorang kawan apakah istrinya masih menunggu dia disana
Kawan yang ditanya juga kebingungan. Bukankah istrinya menyusul dia ke bengkel ? apakah mereka tidak berjumpa disana ? suami dengan wajah menyesal memberitahu kawan kalau dia tidak jadi ke bengkel tersebut.
Si istri ke bengkel yang dimaksud tidak menemui suaminya disana mulai gelisah, lalu kesal, terus marah. Kebawa rasa marah akhirnya memilih pulang sendiri. Setiba dirumah, suasana hati masih terbawa kejadian itu, saat suami sampai dirumah, besar kemungkinan akan saling menyalahkan. Terus bertengkar.
Kejadian sepele bukan ? tapi lihatlah efeknya !
Sang kawan lalu bilang ini yang salah adalah si istri. Kenapa gak nelpon dulu atau kenapa gak tunggu saja. Well, apapun itu tidak lagi membantu bukan ? Karena kesempatan itu sudah LEWAT !
Dalam kehidupan sehari-hari, Kita mungkin tidak bisa mengendalikan setiap kondisi dan situasi, tapi kita bisa mengendalikan ‘reaksi’ kita terhadap kondisi dan situasi tersebut. Lucunya seringkali kita yang selalu ingin mengubah dunia. Seolah-olah hidup kita baru lebih bahagia setelah dunia setuju dengan cara kita, hidup kita baru terpuaskan bila dunia berjalan sesuai kehendak kita. Kita Ingin dunia berubah seperti kehendak kita. Alih-alih mendapatkan kedamaian, malah bertambah penderitaan.
Kepada si kawan, berkaitan dengan kejadian itu, Novita lalu menceritakan kembali sebuah kisah nyata yang terjadi di Vietnam ratusan tahun yang lalu. The temple to Truong’s wife is located on the side of the Hoang river, village of Vu dien, district Ly Nhan, province of Ha Nam . Bila anda sempat mengunjungi Negara itu, tanyalah kisah Istri Tuan Truong ini kepada warga setempat. Mereka tau persis kisahnya.
Adaseorang pria yang masih sangat muda, ia harus mengikuti wajib militer. Sehingga dia menjadi tentara dan pergi berperang. Dia harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil, sendirian di rumah.
Mereka menangis cukup lama saat berpisah. Mereka tidak tahu apakah sang pria ini akan kembali dengan selamat, karena tidak ada yang tahu. Pergi berperang sangatlah beresiko. Bisa saja mati dalam beberapa minggu, beberapa bulan, atau mungkin juga terluka parah, jika beruntung, akan pulang selamat, pulang ke rumah, bertemu orang tua, istri dan anak-anakmu.
Pria muda tersebut cukup beruntung, dia selamat. Beberapa tahun kemudian dia dibebastugaskan. Istrinya sangat gembira mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang. Dia pergi ke pintu gerbang desa untuk menyambut suaminya, dia ditemani anak laki-lakinya yang masih kecil. Anak kecil itu dilahirkan saat ayahnya masih bergabung dengan pasukan militer.
Pada saat mereka bertemu kembali, mereka menangis dan saling berpelukan, mereka menitikkan air mata kegembiraan. Mereka sangat bersyukur, pria muda tersebut selamat dan pulang ke rumah. Saat itu adalah saat pertama kalinya pria itu melihat anak laki-lakinya yang masih kecil
Berdasarkan tradisi, mereka harus membuat persembahan dialtar leluhur, untuk memberitahu para leluhur bahwa keluarga telah bersatu kembali. Pria itu meminta istrinya pergi ke pasar untuk membeli bunga, buah-buahan dan barang persembahan lain yang diperlukan untuk membuat persembahan di altar. Pria itu membawa anaknya pulang dan mencoba membujuk anaknya untuk memanggilnya ayah. Tapi anak tersebut menolak.
“Tuan, kamu bukanlah ayah saya. Ayah saya adalah orang lain. Dia selalu mengunjungi kami setiap malam, dan setiap kali ia datang, ibu saya akan berbicara dengannya lama sekali. Saat ibu duduk, ayah saya juga duduk, saat ibu tidur, dia juga tidur. Jadi, kamu bukanlah ayah saya.”
(Apa yang sedang bermain dikepalamu kawan ? Novita saat itu menghentikan cerita ini. Wah, istrinya pasti selingkuh ini. kata sikawan. Novita tersenyum, lalu dia melanjutkan ceritanya)
Ayah muda tersebut sangat sedih, sangat terluka. Dia membayangkan ada pria lain yang datang kerumahnya setiap malam dan menghabiskan waktu semalaman dengan istrinya. Semua kebahagiaan lenyap seketika. Ayah muda tersebut sangat menderita sehingga hatinya menjadi sebongkah es. Dia tidak dapat lagi tersenyum. Dia menjadi sangat pendiam.
Istrinya yang sedang berbelanja, tidak tahu sama sekali mengenai hal ini. Sehingga, sewaktu ia pulang ke rumah, ia sangat terkejut. Suaminya tidak mau menatap wajahnya lagi. Dia tidak mau berbicara, dia menjadi sangat dingin, seakan-akan memandang rendah istrinya. Wanita itu tidak mengerti, Mengapa? Sehingga sang istri mulai menderita. Menderita sangat mendalam.
Setelah persembahan selesai dibuat, wanita tersebut meletakkannya di altar. Suaminya menyalakan dupa, berdoa kepada para leluhur, membentangkan tikar, melakukan empat sujud dan memberitahukan bahwa ia sudah pulang ke rumah dengan selamat dan kembali ke keluarganya. Setelah selesai, Ia tidak mengizinkan istrinya melakukan hal serupa, karena ia berpikir istrinya tidak pantas menampakkan dirinya di depan altar para leluhur. Wanita muda itu kemudian merasa malu, “terhina” karena peristiwa itu, dan dia menderita lebih dalam lagi.
Menurut tradisi, selesai upacara, mereka harus membereskan persembahan dan harus duduk bersuka cita menikmati makanan dengan kegembiraan. Tetapi pria muda itu malah pergi keluar ke desa, menghabiskan waktunya di kedai arak. Lalu mabuk karena dia tidak dapat menanggung penderitaannya.
Ia tidak pulang ke rumah hingga larut malam. Dia mengulangi perbuatan itu hingga beberapa hari, tidak pernah bicara dengan istrinya, tidak pernah menatap istrinya, tidak pernah makan di rumah. Wanita muda tersebut sangat menderita dan ia tidak dapat menanggungnya.
Pada hari keempat, ia melompat ke sungai dan mati.
Karena istri telah meninggal, malam itu suami harus tetap tinggal dirumah untuk menjaga anak laki-lakinya yang masih kecil. Dia mencari lampu minyak tanah dan menyalakannya.
Saat lampunya menyala, tiba-tiba anak kecil itu berteriak :
“Ini dia Ayahku!”
Dia menunjuk bayangan ayahnya di dinding.
“Tuan, ayahku biasanya datang tiap malam dan ibu berbicara banyak dengannya, dia menangis di depannya, setiap kali ibu duduk, ayah juga duduk, setiap kali ibu tidur, ayah juga tidur.”
Jadi “ayah” yang dimaksudkan anak tersebut hanyalah bayangan ibunya. Ternyata, wanita itu biasanya berbicara dengan bayangannya setiap malam, karena dia sangat merindukan suaminya.
Suatu ketika anaknya bertanya kepada ibunya :”Setiap orang didesa memiliki ayah, kenapa aku tidak punya ?’’
Untuk menenangkan anaknya, sang ibu menunjuk bayangannya di dinding dan berkata :
“Ini dia ayahmu !” dan ia mulai berbicara dengan bayangannya.
“Suamiku sayang, kamu sudah pergi begitu lama. Bagaimana mungkin aku membesarkan anak kita sendirian ? Tolong, cepatlah pulang sayang.”
Itulah percakapan yang sering ia lakukan. Tentu saja saat ia duduk, bayangannya juga duduk. Sekarang ayah muda tersebut mengerti. Dia sadar akan kesalahannya, dia mulai menangis dan terus menangis, dia menjambak rambutnya, dia memukul dadanya. Tapi semua sudah terlambat, istrinya sudah mati.
Akhirnya semua penduduk desa belajar dari tragedy itu, mereka lalu mendoakan wanita malang itu dan mendirikan sebuah stupa untuk mengingatkan kepada setiap orang persepsi keliru dapat membuatmu menderita hebat.
***
Andai saja, ya..banyak sekali ‘andai’ dan ‘andai’. Tapi semua sudah terlambat.
Sesungguhnya, kita semua punya kemampuan merubah akhir skenario itu bila mau ‘berbicara’. Namun terkadang kemampuan ‘berbicara dan mendengarkan’ kita dikalahkan oleh HARGA DIRI yang begitu tinggi. HARGA DIRI mencegah anda menemui pasangan. Saat menderita, kita selalu yakin penderitaan ini disebabkan oleh orang lain. Kita lebih memilih menderita dengan memegang PERSEPSI KELIRU yang kita anggap benar.
Hmm…
So, Setiap saat kita merasakan sesuatu, kita perlu bertanya : “Apakah kamu yakin persepsi tersebut benar ? Apakah kamu yakin dengan persepsimu?’’
Periksa lagi.